Tulisan yang Tak Layak Baca
Selamat datang, selamat membaca untaian-untaian kalimat dari aku, si penulis yang katanya, tulisannya tak pernah layak baca. Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala aku belakangan ini, lucu ya, bagaimana satu kalimat bisa menghantam perjalanan yang aku bangun selama bertahun-tahun. Perjalanan yang orang lain mungkin tidak pernah lihat, karena aku menyembunyikannya.
Aku tumbuh dari kata-kata, dari halaman-halaman kecil buku harian sewaktu menginjak bangku sekolah dasar, dari cerita-cerita pendek yang aku kirim tanpa berharap menang, dari pujian kecil yang dulu membuat aku percaya bahwa mungkin… aku punya sesuatu dalam diriku.
Pameran diksiku benar-benar dimulai saat aku duduk di bangku kelas 12. Aku menjadikan seorang lelaki sebagai pemeran sekaligus pameran namanya. Kayyis. Dulu aku terlalu tak layak dilihat, tak pandai merawat, tak mahir memikat. Aku hanya memandangnya dari jendela kelas. Berteriak dalam sunyi setiap kali sosoknya melewati ragaku, harumnya bahkan bisa menusuk indraku. Dan entah kenapa, setiap kali itu terjadi, aku sadar lagi bahwa aku hanyalah figuran yang tidak akan pernah menjadi pemeran utama dalam cerita siapa pun.
Tapi rasa sesak itu terlalu besar untuk hanya disimpan dalam dada. Sampai akhirnya alam bawah sadarku menuntunku, kalau aku tidak bisa menjadi pemeran utama di hidupnya,
maka aku bisa menciptakan panggungku sendiri,
sebuah pameran di mana aku yang jadi pemeran utamanya.
Kutulis untaian puisi tentangnya, kutulis rasa sakit yang kurasa saat ia pergi menghilang dari mata, kutulis rasa sesak yang kurasa saat merindu hadirnya yang kini sudah sirna, dan kutulis rasa yang menyesakkan dada itu perlahan luruh bersama cinta yang akhirnya kulepas. Ku kirim puisi pertamaku ke penyelenggara lomba. Kuberi judul “Fajar yang Tak Lagi Sama”. Siapa sangka, untaian puisi yang dulu kuanggap terlalu kecil untuk dilihat siapa pun itu justru menempati posisi ke-16 sebagai puisi rindu terbaik. Dan puisiku, masuk dalam daftar puisi yang akan diterbitkan menjadi sebuah antologi.
Untuk kedua kalinya aku menantang rasa tidak percaya diriku. Kedua kalinya aku mencoba peruntungan. Untuk kedua kalinya aku memberanikan diri. Kukirim puisiku yang kuberi judul “Sepeninggalmu”, dan sekali lagi, puisiku kembali diterbitkan dalam sebuah antologi.
Mendapat sebutan penulis terbaik dari dua penyelenggara lomba, menerima pujian dari teman-teman, keluarga, bahkan dari guru-guru yang dulu menganggap aku bodoh, karena nilaiku selalu kecil di mata pelajaran mereka. Itu semua seperti balasan kecil dari semesta.
Kuakui, aku tak pandai berhitung. Aku tak mengerti cara memecahkan rumus sin cos tan. Aku tak mahir menghafal tabel periodik unsur kimia, dan memahami jenis serta bagian tubuh manusia pun bukan hal yang mudah bagiku. Tapi ada satu hal yang bisa kulakukan. Satu hal yang membuatku tetap merasa punya arti. Aku bisa menulis. Aku manusia yang hidup dari diksi dan bernapas dengan afeksi.
Terima kasih, Kayyis. Terima kasih karena sudah menjadi pemeran pertama di pameran yang baru kudirikan ini. Setiap hari tanpamu kutempuh dengan memeluk buku-buku yang lahir darimu, berharap pada waktu yang entah kapan kau akan menemukan dan membacanya.
Setelah berhasil menghapus namanya dari lubuk hatiku, aku mulai membangun panggung baru untuk pameranku. Kali ini bukan lagi tentang dia, melainkan tentang berbagai orang baru yang turut serta kuabadikan namanya. Aku memilih platform Twitter, yang saat itu sedang riuh dengan fenomena Alternate Universe atau AU. Di sana, aku menulis lagi, lagi, dan lagi, seolah setiap huruf adalah pijakan baru untuk aku bangkit. Sambil berjuang meraih universitas impianku, aku selalu menyempatkan diriku untuk menulis, meski hanya satu paragraf sebelum tidur.
Ketika pameranku perlahan disebut sebagai “panggung diksi”, aku kembali membangun panggung baru di tempat lain, Wattpad. Di sana aku menulis banyak cerita. Ratusan ribu orang membaca tulisanku, meski butuh waktu yang panjang, meski aku sering tertatih, meski lelah dan kehilangan ide kadang menempel di bahuku. Tapi pada akhirnya, aku tetap menulis. Karena di sanalah aku hidup.
Ribuan komentar, baik yang manis maupun yang menyakitkan, sudah kubaca satu per satu. Ada yang kupelajari, ada yang kutelan saja, dan ada yang diam-diam kusimpan untuk memperbaiki diri.
Tapi pada akhirnya, pujian dari pembaca setiaku, mereka yang tetap tinggal meski aku jatuh bangun, itulah yang membuatku hidup.
Aku megahkan panggung diksi yang kudirikan, namun kukubur namaku jauh di belakangnya. Aku berdiri di balik tirai, membiarkan karyaku melangkah sendirian ke hadapan dunia.
Bukan karena aku tak bangga , tapi karena aku masih terlalu takut untuk berkata, “Aku bisa menulis.”
Sampai akhirnya aku dihadapkan pada kalimat yang membuat aku mempertanyakan segalanya. Untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir, “Apakah selama ini aku cuma berhalusinasi bahwa aku bisa nulis?” Tapi setelah melewati beberapa hari yang berat, aku akhirnya sadar satu hal, Panggung yang sudah kudirikan ini tak akan runtuh hanya karena satu penilaian.
Panggung diksi ini didirikan oleh seseorang yang sudah mencoba belajar, yang menulis bukan untuk sempurna tapi untuk jujur pada dirinya sendiri. Dan mungkin, justru dari momen paling menyakitkan ini, aku belajar sesuatu, bahwa setiap penulis akan sampai pada titik di mana tulisannya diragukan. Tapi tidak semua penulis berani untuk tetap meneruskan. Tak apa jika tulisanku hari ini dianggap tidak layak baca, atau jalan ceritanya terasa tak masuk akal. Setidaknya aku tahu satu hal, perjalanan untuk mendirikan panggung diksi yang megah itu sudah jauh kulalui. Jalan menuju ke sana diselimuti lubang, jurang, dan rasa ingin menyerah yang datang berkali-kali. Dan kupilih untuk selalu mengokohkan panggung yang sudah berdiri ini. Tidak untuk menyenangkan siapa pun, tapi untuk menghormati perjalanan yang sudah terlalu jauh untuk ditinggalkan.
Di tengah perjalanan panjang itu, ada nama yang tak pernah bisa kulupa. Untuk satu nama yang selalu kusebut, Jane. Sahabatku tersayang. Terima kasih sudah menemani setiap proses berdirinya panggung ini, sudah menjadi orang yang ikut bersorak paling keras saat aku menang,
dan menjadi tangan pertama yang mengulur ketika panggung ini hampir runtuh.
Terima kasih, Ibu Latifah, ibu adalah orang pertama yang melihat bakatku. Ibu bahkan dengan lantang berkata bahwa aku akan menjadi penulis terbaik. Kalimat itu sederhana, tapi hingga hari ini masih menjadi pondasi paling kokoh dalam diriku.
Terima kasih, Pak Ute. Maaf jika dulu aku sering mendapat nilai rendah di mata pelajaran Matematika Minat yang Bapak ajar. Tapi setelah aku memenangkan lomba puisi, Bapak tak pernah lagi menekanku untuk mendapat nilai sempurna dalam matematika. Seakan Bapak ingin berkata, “gak apa-apa, kamu hebat di tempat lain.”
Ibu Latifah, anak murid yang dulu berkali-kali mondar-mandir masuk ruang BK karena bingung mau pilih prodi apa untuk kuliah, sekarang sudah masuk Sastra Inggris, Bu. Bukan Sastra Indonesia seperti yang Ibu sarankan, tapi tetap berjalan di jalur kata-kata yang Ibu lihat sejak awal.
Dan Pak Ute, murid yang dulu paling bodoh berhitung itu… tenang, dia tidak masuk Teknik kok. Kasihan dosennya nanti kalau dia nekat masuk Teknik, ya Pak? Wkwkwk.
Tapi dia belum jadi apa-apa sekarang, dan ia juga tidak tahu akan menjadi apa di masa depan. Namun setidaknya… ia sudah berhasil mendirikan sebuah panggung megah yang sudah menjadi rumah bagi banyak hati yang pernah singgah. Panggung yang dibangun dari luka, dari rindu, dari kata-kata yang disusun pelan-pelan oleh seorang anak yang dulu takut bilang, “aku bisa menulis.” Panggung yang mungkin tidak sempurna, tapi nyata. Ada. Dan hidup.
Selamat datang di panggungku, Pameran Diksi.
.png)


.jpeg)
Komentar
Posting Komentar