Ada hal-hal yang tak tercatat dalam kitab mereka yang suci, tak terdengar dalam doa yang mereka lantunkan dengan bibir bersih namun hati busuk.
Ada luka yang tidak berdarah, tapi tetap membunuh perlahan.
Ada pengkhianatan yang tidak diucap, tapi terasa di dada seperti pisau yang menolak dicabut.
Aku menulis ini bukan untuk menghapus luka, melainkan untuk mengabadikan pengkhianatan yang mereka bungkus dengan kesalehan.
Sajak ini kutulis untuk mereka yang mengajarkan arti “teman” dengan cara paling menyakitkan.
Yang Tak Tercatat dalam Riwayat Suci Kalian
.jpeg) |
Picture by Pinterest
|
Mereka berselimut kesucian palsu, sementara jejaknya merah oleh luka yang mereka sebarkan. Kegelapan hati mereka mencipta badai, mengoyak tenang yang telah lama kutanam.
Lidah mereka menggonggong tanpa kendali, menyalak di balik wajah suci nan basi. Mereka berseru lantang, menyalak di ujung lidah, menggonggong bak anjing pencari darah, mengusik tenangku dengan nista yang pura, lalu berlindung di balik wajah mulia.
Katanya aku luka yang harus dijauhi, padahal merekalah yang mengukir pedih ini. Ketika aku salah, mereka jadi hakim,
menuding, mencaci, menghukum tanpa tim. Tapi saat mereka jatuh dalam noda,
aku yang jadi pelindungnya.
Aku diam saat mereka bohong, kupeluk ketika dunia mereka kosong. Namun saat hatiku yang koyak, mereka tinggalkan aku remuk dan retak. Mereka berkata, “Kau terlalu lemah.”
Padahal aku kuat karena selalu memaafkan salah. Aku telan ego demi yang kusebut kawan, tapi mereka buat aku jadi bahan olokan.
Tiap luka yang mereka beri, kututup rapi agar tak mereka sesali. Bodohnya aku, mungkin terlalu baik. Kini amarahku menjelma bara yang tak lagi laik. Aku bukan batu yang tak bisa hancur, bukan tanah yang selalu maklum bila diinjak dan dicukur.
Aku manusia, dengan hati dan batas, tak selamanya bisa bersikap tegas dan ikhlas.
Mereka boleh berpura suci, menulis kisahnya sendiri dalam kitab yang mereka anggap benar. Tapi aku tahu, tidak semua kebenaran lahir dari doa, beberapa terlahir dari luka, dari darah yang diam-diam menetes di balik senyum. Maka biarlah puisiku jadi saksi, bahwa aku pernah dikhianati, tapi memilih menulis, bukan membalas.
Komentar
Posting Komentar