Tentang Cinta yang Tidak Menang

Selamat datang, selamat membaca untaian untaian kata yang kutulis. Kali ini, ku bawa nama seseorang yang sudah lama ku simpan rapi di catatan harian milikku, nama yang sudah lama menghilang namun tak pernah ku kubur atau kubuang.

Mahesa Levgar Salvatore. Nama itu seperti lagu lama yang tak pernah benar-benar berhenti diputar di kepalaku. Kadang hanya jadi dengung samar, kadang kembali lantang tanpa aba-aba. Aku tak pernah sengaja memanggilnya, tapi ia selalu tahu jalan pulang ke ingatanku.

Raganya adalah tempat yang paling nyaman untuk aku berpulang.
Wajahnya menyimpan keteduhan, hidung mancung, mata yang memicing tajam namun hangat ketika menatapku. Bibirnya tebal, sering kali membentuk senyum kecil yang tak pernah gagal meluluhkan pertahananku. Kumis tipis di atasnya memberi kesan manis yang tak pernah ia sadari. Tubuhnya menjulang dengan cara yang menenangkan. Kaki jenjang, dada yang bidang, kulit putih yang selalu terasa kontras dengan rambutnya yang tebal dan hitam legam. Aku menghafal setiap sudutnya, bukan dengan mata saja, tapi dengan perasaan. Seolah raganya adalah peta, dan aku tahu persis ke mana harus kembali.

Orang-orang bilang Mahesa buta karena memilihku. Mereka bilang itu aneh, nyaris tak masuk akal. Di kampus, ia seperti pusat perhatian, primadona yang tidak perlu berusaha keras untuk dikagumi. Wajahnya menarik, pikirannya luas, kepemimpinannya jelas terlihat. Ketua himpunan fakultas, pintar, berwibawa, dan tahu caranya berdiri tegak di hadapan banyak orang.

Sementara aku, tiga tahun lalu, adalah kebalikannya. Aku belum pandai merawat diri. Kulitku berminyak, jerawat datang tanpa izin. Tubuhku tak ramping, pakaianku tak pernah benar-benar pantas, asal menutup tubuh saja sudah cukup. Berbicara di depan umum adalah mimpi buruk terbesarku, suaraku gemetar bahkan sebelum kalimat pertama selesai. Aku tumbuh dengan terlalu banyak penolakan. Dari laki-laki yang tak pernah benar-benar melihatku, dari tatapan yang berkata bahwa rupaku tak cukup layak untuk dipilih. Aku terbiasa merasa kurang, bahkan sebelum sempat berharap.

Butuh beberapa kali robekan di kalender pertanda ganti tahun, untuk aku merasa layak, butuh memakan waktu yang sulit di hitung dengan indra peraba, untuk aku menjawab setiap pertanyaan di lubuk jiwa. Aku sering bertanya-tanya, kenapa di antara banyak pilihan, ia tetap memilihku.

Bukan karena aku paling cantik. Bukan karena aku paling pandai berbicara. Bahkan bukan karena aku paling siap dicintai. Ia memilihku di saat aku masih canggung, masih kikuk dengan tubuhku sendiri,masih sering menunduk ketika merasa tak pantas dilihat terlalu lama.

Mungkin karena aku melihatnya tanpa kagum yang berlebihan.
Aku tidak mencintainya sebagai ketua himpunan, atau sebagai sosok yang dielu-elukan banyak orang. Aku mencintainya sebagai manusia dengan lelah di pundaknya, luka di dalam raganya, dan sisi rapuh seluruh jiwanya yang tak pernah ia tunjukkan ke siapa pun.

Di hadapanku, ia tidak perlu menjadi siapa-siapa. Ia boleh marah, boleh diam, boleh jatuh tanpa takut kehilangan wibawa. Dan mungkin, itulah yang ia cari, seseorang yang tidak menuntutnya selalu kuat. Aku mendengarkan ketika ia bicara. Aku tinggal ketika yang lain pergi.
Aku memilih memahami, bahkan ketika itu menyakitiku.

Dan mungkin, itulah jawabannya. Ia tidak memilihku karena aku sempurna, melainkan karena di sisiku, ia merasa cukup, untuk pertama kali dalam hidupnya.

pict by pinterest

Namun tidak semua pilihan diterima oleh dunia. Cinta kami tumbuh di antara dua keyakinan yang tak pernah benar-benar diberi ruang untuk berdamai. Sejak awal, kami tahu ada tembok yang berdiri di hadapan kami. Tinggi, kokoh, dan dingin.

Ia pernah bilang, bahwa ayahnya tak pernah melihatku sebagai masa depan. Bukan karena aku kurang baik, melainkan karena aku berbeda.

Perbedaan itu menjadi alasan yang tak bisa dinegosiasikan. Tak peduli seberapa sungguh kami bertahan, tak peduli seberapa besar ia memilihku. Awalnya hanya berupa larangan. Lalu berubah menjadi nada tinggi.
 Menjadi kata-kata yang melukai. Dan pada akhirnya, menjadi tangan yang turun tanpa ampun.

Aku melihat bagaimana cinta bisa membuat seseorang berani memilih luka. Ia lebih memilih dipukul, dimarahi, dan disudutkan
 daripada melepaskanku. Setiap kali ia bercerita, dadaku ikut sesak — 
 antara bangga dan takut. Takut jika suatu hari, aku menjadi alasan seseorang kehilangan rumahnya sendiri.

Saat ia tak lagi sanggup pulang, ia memilih datang ke kotaku. Membawa tubuh yang lelah dan jiwa yang terlalu penuh. Keluargaku menyambutnya tanpa banyak tanya, seolah ia memang sudah menjadi bagian dari kami sejak lama. Di rumahku, ia tertawa lebih sering. Tidurnya lebih nyenyak. Dan untuk sesaat, aku percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Namun kebahagiaan kami tidak pernah benar-benar utuh. Selalu ada retak kecil yang memilih diam, menunggu waktu untuk membesar. Ia mulai lebih sering termenung. Tawanya masih sama, tapi matanya tidak lagi sepenuhnya pulang. Ada lelah yang tak ia ceritakan, marah yang ia simpan terlalu lama. Aku melihatnya, tapi memilih percaya bahwa cinta cukup untuk menenangkannya.

Malam-malam menjadi lebih sunyi. Pesannya lebih singkat. Diamnya lebih panjang. Dan setiap kali aku bertanya, ia hanya berkata, “Gapapa. Aku cuma capek.”

Aku belajar membaca tubuhnya. Cara bahunya menegang ketika menyebut rumah. Cara suaranya berubah ketika ayahnya menelepon. Cara tangannya gemetar saat ia berusaha tetap terlihat baik-baik saja.

Aku tahu ada badai yang sedang dikumpulkan, tapi aku memilih menjadi langit yang tenang dan berharap hujan tak pernah benar-benar turun. Aku tidak menyadari satu hal, bahwa marah yang tidak punya tempat pulang
akan mencari arah sendiri.

Dan aku, tanpa sadar,
sedang berdiri tepat di jalurnya.

Perubahannya tidak datang sebagai ledakan. Ia datang pelan, hampir tak terlihat, seperti malam yang turun tanpa suara. Ada hari-hari ketika ia begitu hidup. Bicaranya cepat, tawanya lepas, rencananya berlapis-lapis.
Ia mencintai dengan intensitas yang membuatku kewalahan, seolah waktu bisa habis kapan saja dan semuanya harus dirasakan sekarang.

Lalu hari-hari itu menghilang. Digantikan diam yang panjang, tatapan kosong, dan tubuh yang enggan bangun dari tempat tidur. Aku memanggil namanya berkali-kali, tapi ia seperti berada di ruang lain yang tak bisa kujangkau. Aku mulai takut, meski belum tahu harus menamai apa yang kutakuti.

Kami akhirnya duduk di ruang tunggu yang dingin, dengan dinding putih dan bau obat yang asing. Aku menggenggam tangannya, sementara ia menatap lantai, seolah dunia terlalu berat untuk ditatap langsung.

Kata itu keluar dari mulut dokter dengan nada netral,
Borderline Personality Disorder

Tidak ada petir. Tidak ada suara runtuh. Hanya keheningan yang aneh, dan perasaan bahwa hidup kami baru saja berubah arah.

Aku mengangguk, seolah mengerti segalanya. Padahal yang kupahami saat itu hanyalah aku tidak ingin pergi.

Aku belajar jadwal obat, jam terapi, cara menenangkan seseorang yang pikirannya berlari terlalu cepat atau tenggelam terlalu dalam. Aku menjadi penopang, bahkan ketika kakiku sendiri mulai gemetar. Aku percaya,
 jika aku cukup sabar, cukup mencintai, cukup bertahan. Ia akan kembali menjadi dirinya yang dulu.

Aku tidak tahu bahwa sejak saat itu, cinta kami tak lagi hanya tentang kami, melainkan tentang peperangan yang tak kasatmata dan harga yang perlahan harus kubayar.

Pada suatu hari, ia pergi dengan alasan yang terdengar biasa. Katanya bekerja. Katanya hanya seminggu. Aku tidak bertanya banyak, aku sudah terlalu lelah untuk curiga, dan terlalu terbiasa percaya.

Hari-hari berjalan tanpa kabar. Pesanku tak dibalas. Teleponku tak diangkat. Aku menenangkan diri dengan kebohongan yang kubuat sendiri,
mungkin ia sibuk, mungkin ia sedang berusaha sembuh. Aku ingin mempercayainya. Aku selalu ingin.

Seminggu kemudian, ia datang. Tanpa banyak kata. Meminta izin untuk menumpang tidur di kosanku. Aku mengiyakan, seperti biasa, tanpa syarat.

Pagi itu aku berangkat kuliah. Meninggalkannya sendirian di ruang yang paling kukenal, tempat aku menyimpan hidupku. Aku pulang lebih cepat dari rencana. Langkah kakiku berhenti di depan pintu kamar saat suara yang tak seharusnya ada menyambutku lebih dulu.

Waktu seperti berhenti. Aku tidak menangis. Aku bahkan tidak berteriak. Aku hanya berdiri di sana, menyaksikan kenyataan yang tidak pernah siap kuterima, ia bersama perempuan lain, di kamarku, di tempat yang seharusnya paling aman bagiku.

Tidak ada kata yang cukup pantas untuk perasaan itu. Bukan marah. Bukan kecewa. Hanya sesuatu yang runtuh perlahan di dalam dada, sesuatu yang tak bisa diperbaiki lagi.

Ia meminta maaf. Tentu saja.Tapi ada luka yang tidak bisa disembuhkan oleh penyesalan. Ada rasa sakit yang terlalu telanjang untuk dimaafkan begitu saja. Di hari itu, aku kehilangan bukan hanya kepercayaanku padanya, tapi juga bagian dari diriku yang selama ini percaya bahwa cinta selalu punya alasan.

Dan meski aku belum pergi sepenuhnya, aku tahu sesuatu di antara kami
telah mati.

Aku mencintainya dengan cara yang paling utuh yang aku tahu.
 Sebagai rumah, sebagai sandaran, sebagai seseorang yang kupilih bahkan ketika dunia menolaknya. Aku bertahan melewati perbedaan keyakinan, kemarahan yang diwariskan, luka yang tak pernah benar-benar sembuh, dan rasa sakit yang perlahan menggerogoti diriku sendiri.

Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tumbuh di tempat yang aman.
 Kadang ia lahir dari empati, dari keinginan menyelamatkan, dari harapan bahwa seseorang bisa berubah jika cukup dicintai. Aku percaya itu terlalu lama.

Ia mengajariku banyak hal tentang memilih, tentang bertahan, tentang kehilangan, dan tentang batas yang seharusnya tidak pernah kulewati atas nama cinta. Kini, namanya masih tinggal di kepalaku, tapi tidak lagi di hidupku. Bukan karena aku berhenti menyayanginya, melainkan karena aku akhirnya belajar menyayangi diriku sendiri.

Ada cinta yang tidak pernah salah, hanya tidak ditakdirkan untuk selamat. Dan jika suatu hari aku mengingatnya lagi, aku ingin mengingatnya tanpa marah, tanpa dendam, hanya sebagai seseorang yang pernah menjadi everything he was, dan dari kehilangannya, aku belajar cara pulang.

Begitulah kisah kasihku bersamanya. Kutulis ini bukan untuk membuka kembali luka, melainkan untuk mengabadikan rasa sakit yang pernah ada,

Komentar