Sang Sastra dan Jejaknya yang Tak Lekas Padam


    “Sang Sastra” adalah bab yang menjadi rumah bagi tiga fase perasaanku terhadap seseorang yang hanya bertemu denganku sekejap, namun menetap begitu lama di dalam dadaku.

Di sini, aku tidak hanya menulis puisi, aku menuliskan jejak rasa yang ditinggalkannya,
perihak jarak yang tak bisa disiasati, rindu yang tak bisa diobati, dan keikhlasan yang lahir dari puing-puing hati.

pict by pinterest


Pertemuan itu singkat, tapi sastra membuatnya abadi.
Maka tiga puisi ini adalah saksi paling jujur bagaimana seseorang dapat singgah sebentar,
namun tinggal selamanya dalam imaji.

I. Perihal Jarak

Malam berganti pagi,

ingatkan aku pada sang pelipur lara.

Saat rembulan yang kita saksikan masih sama,

bumantara benderang

tak pancarkan warna berbeda

kita tetap berdiri di bawah hamparan cakrawala yang serupa.

Kini senjaku tak seperti senjamu di sana.

Negeri Mesir dengan sejuta cerita yang tercipta,

dengan kamu yang begitu indah singgah padanya.

Aku menanti pertemuan

yang entah kapan akan terlaksana.

Aku rindu kamu tiada tara.

Puisi pertama ini lahir dari fase ketika ia pergi, fase ketika jarak menjadi bahasa yang tak pernah kami sepakati, namun tetap harus kami terima. 

II. Perihal Tenggat

Jarak memisahkanku

dari sang pelipur lara.

Gulana yang menggema di dada

lantas dengan apa obatnya,

sedangkan sang penoreh lukanya

telah lebih dulu sirna?

Puisi kedua ini lahir saat rindu mulai berubah menjadi sakit—ketika kepergiannya bukan lagi tentang jarak, tetapi tentang hilang.

III. Perihal Mengikhlaskan

Sepeninggalmu,

sanubariku kian merapuh.

Puing-puingnya hancur tak terhitung.

Malamku selalu mendung,

asaku terapung,

sukmaku membisu terkubur rindu.

Engkau masih menjadi tokoh utama dalam setiap puisiku.

Aksaraku masih mengagumi keelokkan asmamu.

Sosokmu melegenda dalam imajiku

entah hingga kapan, akulah yang tak tahu.

Sebab sepeninggalmu,

aku tak buru-buru mengemasi rindu.

Puisi ketiga ini lahir di fase penerimaan, bukan karena rasa telah sembuh, tetapi karena aku belajar berdamai dengan luka yang tak bisa dipaksa pergi.

    Tiga puisi ini adalah perjalanan cintaku yang paling sunyi.
Tentang seseorang yang datang tanpa rencana, meninggalkan tanpa pamit,
namun menetap begitu lama dalam aksara. Mungkin mengikhlaskan bukan tentang melupakan, melainkan menerima bahwa beberapa kisah ditakdirkan hidup hanya dalam sastra.

    Dan di sini, dalam Pameran Diksi,
aku mengabadikannya bukan untuk memanggilnya kembali,
melainkan untuk mengenang diriku
yang pernah mencintai dengan begitu dalam.




Komentar

Postingan Populer