Pilihan Puisi Sapardi untuk Jiwa yang Merindu

     Kadang, hidup menumpuk emosi yang sulit diungkapkan—rindu yang membuncah, kehilangan yang diam, atau sekadar momen sunyi untuk merenung. Bagiku, membaca puisi Sapardi Djoko Damono selalu menjadi pelampiasan sekaligus penenang hati. Kata-katanya sederhana, tapi mampu menembus relung terdalam, seakan berkata“Tak apa merasakan ini, kau tidak sendiri.”

pict by pinterest

    Di blog ini, aku ingin berbagi pilihan puisi Sapardi Djoko Damono yang paling cocok dibaca saat hati sedang merindu,  Semoga setiap barisnya bisa menemani emosi dan memberi ketenangan bagi jiwa yang merindu.


1. Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan ituTak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu(1989)
Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya
(1980)
tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka

2. Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada.

3. Dalam Doaku 

Dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun disana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

    Sapardi Djoko Damono sang maestro puisi modern Indonesia mengajarkan kita bahwa rindu tidak selalu harus diucapkan, tapi bisa dirasakan melalui keheningan, doa, atau alam di sekitar kita. Membaca puisinya memberi ruang bagi hati untuk bernapas, merasakan, dan menyelami setiap rasa rindu yang hadir.


Komentar

Postingan Populer