Kita bersorai merayakan keheningan
Menggapai seseorang yang tak sepenuhnya hadir dalam hidup kita adalah perjalanan yang menyakitkan. Setiap langkah terasa berat, setiap perhatian yang diberikan bisa menjadi senjata sekaligus penawar. Begitulah rasanya berjalan ke arahmu.
Seperti sorai yang mengalun dalam lagu Nadin Amizah, aku menjerit dalam diam, merapal rindu yang tak terbalas, dan menyimpan setiap kepedihan di relung jiwa. Sajak ini kutulis untuk mengabadikan rasa sakit yang kau beri, sebagai saksi sunyi dari setiap luka dan harap yang tak pernah sampai. dan sajak ini kuberi judul:
Kita bersorai merayakan keheningan
![]() |
| pict by pinterest |
Mengapa begitu sulit meraih hatimu, ragamu, jiwamu?
Aku tertatih berjalan ke arahmu, dan dengan kejamnya kau meruntuhkan jembatan yang sudah ku bangun. Kau jahat, tapi dengan cara yang tak terucap, memanipulasi perasaanku dengan lembut perhatian, lalu menghancurkannya dengan dingin. Sebentar aku merasa menjadi satu-satunya makhluk yang kau cintai, sebentar kemudian sadar bahwa aku hanyalah setitik kecil di semesta hidupmu, yang bisa kau hapus tanpa penyesalan.
“Kau memang manusia sedikit kata.
Bolehkah aku yang berbicara?
Kau memang manusia tak kasat rasa.
Biarkan aku yang mengemban cinta.”
Dari diammu, aku belajar banyak: cinta tak selalu hadir dengan suara. Kadang, ia hadir lewat jarak yang kian lebar, lewat mata yang tak lagi menatapku seperti dulu.
Bisakah kau sekali saja melihatku? Lihat aku dengan sepenuh rasa, bukan karena kasihan, tapi karena kau ingin tinggal, meski hanya sebentar.
Aku merapal mantra untuk meluluhkan hatimu, namun nihil. Entah sekeras apa hatimu, atau memang tak pernah ada namaku di dalamnya.
Dengan cara apa lagi ku rayakan luka ini?
Aku selalu bersorai menyambut setiap jengkal duka yang kau tanam di relungku. Bersorai angkuh, menyapa ucapan mereka yang berkata kau tak akan pernah luluh.
Mungkin memang benar, kau tak akan pernah luluh. Maka biarlah aku yang perlahan luruh, tanpa suara, menjadi sunyi yang menerima. Menjadi diam yang terbiasa dengan heningmu, dengan dinginmu, dengan kasarmu. Kutelan semuanya, bersamaan dengan sorai yang tak kunjung bisu.
Kutulis sajak ini untuk seseorang yang tak sepenuhnya hadir dalam hidupku, untuk seseorang yang mengajarkanku tentang rasa sakit, jarak, dan diam. Mungkin kau tak akan pernah membaca kata-kata ini, mungkin juga tak pernah merasakan apa yang kurasakan.
Namun melalui sajak ini, aku belajar menerima bahwa cinta tak selalu harus dibalas. Aku belajar luruh perlahan, menelan luka, dan tetap bersorai dalam sunyi, menemukan kedamaian di antara dinginmu, di antara heningmu, di antara kasarmu. Karena terkadang, mencintai bukan soal memiliki, tapi soal mampu melepaskan dan terus melangkah, sambil tetap menyimpan sorai hati sendiri.
.jpeg)

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar